Selasa, 28 September 2010

Anak Unggul Lahir dari Ibu Tangguh

bu Tangguh

Pengertian ibu tangguh adalah Ibu yang mempunyai kepribadian Islam (Syakhkhshiyyah Islamiyyah) dan mampu menjalankan peran ibu. Ibu yang mempunyai kepribadian Islam akan selalu menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan di dalam berfikir dan berbuat. Ia juga memahami potensi dirinya dan mampu mengoptimalkan dalam rangka mencetak anak unggul. Untuk menjadi ibu tangguh juga harus mengetahui dan menguasai konsep pendidikan anak.
Ibu yang tangguh ketika hendak melakukan suatu perbuatan apapun ia akan berfikir terlebih dahulu dengan akal yang sudah dianugerahkan Allah. Dalam perenungannya ia merasa lemah dan serba terbatas, ia sendiri tidak tahu berapa jumlah rambut di kepalanya, ia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya, ia tidak tahu berapa jumlah air yang dikonsumsi selama hidupnya? Ia tidak tahu kenapa ada perasaan sayang sama anak dan suaminya? Kenapa ada perasaan benci? Mengapa kita ingin memiliki? Kenapa ada rasa takut dalam dirinya ?, Kenapa harus ada rasa lapar dan haus? Kenapa dan masih banyak beribu-ribu kenapa yang tidak bisa di jawabnya. Memang, tidak hanya ibu itu tapi manusia lainpun tidak akan mampu menjawabnya kecuali hanya dugaan-dugaan. Apalagi dalam hal-hal yang ghaib. Bagaimanakah setan itu? Seperti apakah malaikat itu? Kapan hari kiamat itu? Manusia tentu tidak bisa menjawabnya.

mengajiBerdasar kesadaran akan kelemahan dan serba kurangnya yang ia peroleh dari proses berfikir (proses aqliyyah) itu, maka akan dihasilkan pola pikir Islam, maka ia menyerahkan pengaturan hidupnya kepada hukum dan peraturan Allah. Dimana Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hambanya. Ia punya keyakinan bahwa tunduk pada aturan produk manusia hanya akan mendatangkan kesengsaraan. Allah berfirman : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216). Jadi ketika berfikir yang menggunakan akalnya selalu dilandasi dengan aqidah Islam yang dimilikinya, akan terwujudlah aqliyyah Islamiyyah (pola pikir Islam).

Ia akan selalu mencari tahu dengan proses berfikirnya (proses aqliyyah), Apakah perbuatannya dilarang Allah atau tidak. Kalau dilarang , maka akan ditinggalkan, jika boleh mungkin akan ia lakukan bila dibutuhkan. Sehingga tidak ada satupun baginya perbuatan yang bebas nilai. Suatu kaidah Syara : Setiap perbuatan manusia terikat pada hukum syara’ melekat dalam dirinya. Ia menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah makhluk ciptaan Allah, dan tujuan diciptakannya di bumi ini adalah beribadah kepada Allah. Ia akan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini agar sesuai dengan kehendak Kekasihnya sekaligus Penciptanya. Ia juga yakin bahwa semua perbuatannya akan dimintai pertanggung jawaban kelak, baik yang ia lakukan sembunyi sembunyi maupun ketika dilihat orang. Semua tidak ada yang lepas dari pengawasan dan penglihatan Allah. Selalu terngiang-ngiang dalam ingatannya Firman Allah QS Ath Thur :21 yang artinya “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan”, QS. Almuddatsir :38, yang artinya :”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya."

Ibu yang tangguh akan menggunakan akalnya untuk mengamati perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Bagaimana anak makan, minum, berbicara, bagaimana cara mengungkapkan rasa amarahnya, kegembiraannya, ekspresi wajahnya. Ia gunakan akalnya untuk menganalisa potensi yang dimiliki anaknya. Apakah anaknya punya rasa ingin tahu yang besar? Anak mudah menghafal, percaya diri, mudah adaptasi, aktif dan lain-lain. Ia juga berfikir keras tentang apa yang akan dilakukan dengan potensi yang dimiliki anaknya. Dengan akalnya dia juga akan membuat langkah-langkah perbaikan secara sistematis disertai dengan pemilihan cara dan penggunaan sarana yang tepat, sehingga ia tidak malas berfikir, selalu penasaran, banyak bertanya untuk kemajuan pendidikan anaknya.

Ibu yang tangguh ketika memenuhi tuntutan kebutuhan jasmaninya (makan, minum) maupun naluri-nalurinya (memiliki harta, memiliki anak), tak lepas pula ia mengikatkan dengan Aqidah Islam. Dari sini akan lahir apa yang disebut pola sikap Islam (nafsiyyah Islamiyyah) Misalnya dalam memenuhi salah satu naluri melestarikan jenisnya (gharizah nau’), ia mengkaitkan aktifitasnya dalam mendidik anak dengan keyakinanya (aqidahnya). Ia sadar bahwa anak adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggung jawabkan, maka akan melahirkan sikap bahwa ia akan melakukan penjagaan terhadap anak tersebut dan akan mendidiknya sebaik-baiknya sebagai kehendak Sang Pemberi Amanah. Contoh nafsiyyah Islam yang lain adalah Ibu senantiasa berupaya sungguh-sungguh agar kebutuhan anaknya terpenuhi (gizi makan, minum dan lain-lain), ibu selalu menginginkan kehidupan anaknya menjadi sholeh, ingin anaknya memiliki prestasi yang membanggakan, ingin kehidupan anaknya lebih baik dari dirinya, ibu memiliki kasih sayang yang luas.

Proses pengkaitan antara dorongan yang muncul dari kebutuhan jasmani serta naluri ini disebut nafsiyyah Islamiyyah. Ibu yang memiliki pola pikir Islam (Aqliyyah Islam) dan pola sikap Islam (Nafsiyyah Islam) disebut berkepribadian Islam atau bersyakhshiyyah Islam.

Ibu yang beraqliyyah Islam, dalam menjalani step-step mendidik, mengarahkan anaknya selalu ia lekatkan dengan perintah robbnya dan akan mencari bagaimana Islam memberikan petunjuk di dalam mendidik anak usia dini. Ketika menjumpai anaknya berbuat salah, ia berfikir dulu sebelum mengambil sikap apapun. Ia cermati, kenapa si anak melakukan aktivitas yang menurut orangtua salah? Apakah perbuatan itu dia sengaja atau tidak, dia tahu apa tidak bahwa perbuatan itu salah, apakah fatal atau tidak akibatnya, apakah anak hanya meniru orang lain yang tanpa mengerti maksudnya?. Apakah ibu layak memarahi ketika ternyata perbuatan itu tidak disengaja oleh anak atau hanya meniru tanpa tahu maknanya? Misalnya anak berkata kotor saat masih balita. Pada anak usia dini, ia juga menyadari bahwa proses berfikir belumlah sempurna, tepatkah ibu menghukum anak dengan pukulan? Ibu yang tangguh akan berfikir bahwa belum waktunya kita memberikan hukuman fisik semacam pukulan karena ia tahu bahwa tuntunan hadits membolehkan orangtua menghukum secara fisik ketika umur anak mencapai 10 tahun, itupun ketika cara-cara lain sudah tidak mempan. Ia akan bertindak cukup dengan menjelaskan pada anak tentang efek tidak disenangi pada orang lain. Seberapa besarnya kesalahan anak usia dininya, dia akan cari solusi yang pas dan tidak melanggar hukum Allah, agar tidak berefek buruk pada anaknya kelak di kemudian hari.

Demikian pula ketika anak menghilangkan barang berharga seperti handphone. Ibu tangguh akan memilih bertanya kepada anak, kemana tadi HP di bawa? Hal ini memungkinkan masih bisa dirunut sehingga mungkin diketemukan dari pada marahin anak dengan berteriak-teriak, karena dengan marah tidak bisa HP kembali dan anakpun akan menerima pelajaran buruk yaitu marah bila dikecewakan orang nantinya. Ibu juga tidak akan menipu atau berbohong pada anak, karena hal itu tidak diperkenankan oleh Alloh. Ibu yang punya pola pikir Islam akan memahami apa saja yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan saat mendidik anak.

Ibu yang beraqliyyah Islam dia akan memahami konsep Ibu di dalam Islam, bahwa Ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anaknya, dan ini merupakan kewajibannya yang tidak digantikan oleh siapa pun. Ia juga akan mampu menghukumi fakta didasarkan pada aqidah Islam, misalkan air kencing anaknya yang belum makan selain ASI ketika mengenai bajunya. Ia juga tidak berupaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam mendidik anaknya. Yah, ia akan jadi ibu yang tangguh, yang memiliki daya juang yang tinggi demi masa depan anak dan ummat manusia secara keseluruhan.

http://www.tpamujahidin.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49%3Aanak-unggul-lahir-dari-ibu-tangguh&catid=7%3Apendidikan&Itemid=10&limitstart=4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar